Homeschooling Bersama-sama

Pernah ga kamu ngebayangin gimana rasanya homeschooling? Ga perlu bangun pagi-pagi padahal mata masih lima watt, lalu menggigil terkena air shower, kemudian macet-macetan di jalan ke sekolah, serta duduk seharian di bangku kayu yang terlalu tegak dan keras sehingga tulang punggung lama-lama terasa lumayan pegal. Apa sih yang membuat kita mau melakukan ini semua? Apa sebenarnya yang membuat kita mau setiap hari ke sekolah? Jawabannya cuma satu kok. Kamu pasti sudah tahu.

Jelas kita ke sekolah untuk belajar, supaya pinter, supaya nanti setelah lulus kita bisa bersaing masuk universitas lalu kemudian melamar kerja atau bahkan membuka lapangan kerja. Kita yakin kalo mau belajar ya harus ke sekolah. Di rumah kita hanya tau main game atau ya bantu-bantu ibu nyuci baju, nyapu, ngepel, ngenjemur, atau menyeterika pakaian. Banyakan dari kita cuma buka buku semalam sebelum ulangan. Akhirnya kita hanya bergantung sama apa yang diajarkan guru di sekolah tanpa bisa menimba ilmu secara mandiri.

Nah, pandemi covid-19 ini sungguh mengubah itu semua. Kamu, teman-teman yang kamu kenal, adek-adek kelas, kakak-kakak kelas, semuanya mendadak berhenti ke sekolah. Kita homeschool bersama-sama. Kita dididik kalo belajar itu ga harus di sekolah, ga harus nunggu disuapin guru. Ternyata belajar tuh bisa di rumah, di dalam kamar, di ruang tamu, di kolong meja pun juga bisa. Dengan homeschool, hanya diri kita sendiri yang bisa kita andalkan karena ga mungkin guru ngecek proses belajar kita tiap hari. Seharusnya kita berpikir, oh udah cukup nih mainnya, belajar dulu deh sekarang. Intinya, kita, sebagai pelajar, dilatih jadi mandiri sama pandemi covid-19 ini.

Bagaimanapun juga, situasi seperti ini memang tidak gampang. Mungkin kamu pernah mengeluh bahwa situasi di rumah ga kayak di sekolah. Ga ada guru yang membimbing, ga ada teman untuk diajak ngobrol kalo lagi bosen, ga ada seragam yang membuat kamu semangat, dan ga ada bangku kayu yang tegak dan keras itu yang kamu dudukin selama ini bertahun-tahun. Mungkin kamu juga pernah jengkel sama kendala internet. Youtube-nya macet-macet. Google-nya ga ada respon, kalo kamu pake Chrome kamu mikir eh kok ada T-rex tiba-tiba. Atau mungkin kamu mengeluh soal kurikulum kita yang semrawut ga ada benernya. Dalam pikiran kamu berkata banyak banget sih mata pelajarannya, kok aku ga ngerti-ngerti sih, buat apa belajar beginian, aku kan ga suka matematika masa tetep dipaksa harus bisa. Ga cuma kamu yang ngeluh. Kakak-kakak kita yang wisuda tahun ini, mereka pasti kecewa bahwa perayaan hari kelulusan mereka justru diadakan secara daring dan tidak diiringi dengan jalan-jalan bareng teman seangkatan sebagai tanda perpisahan. Hari yang seharusnya membekas di benak berlalu dengan dingin. Baju-baju istimewa yang telah dibeli untuk dipakai di hari itu akhirnya hanya jadi hiasan lemari. Hidup itu ga adil, anggap mereka. Bisa ada seribu satu keluhan bila diteruskan. Memang wajar jika kita kesal, bingung, dan marah karena ini semua terjadi begitu cepat untuk dicerna. Tapi sayangnya, tidak ada yang bisa disalahkan.

Kita tahu pandemi covid-19 kemungkinan besar tidak akan hilang dalam waktu dekat, keluhan kitapun ga akan mengubah apapun walaupun hanya sedikit. Tapi bukan berarti kita harus pasrah di tengah ketidakpastian. Jika kita menyerah, kita hanya mengalami kemunduran. Langkah pertama yang dapat kamu ambil untuk membantu belajar daring adalah mengubah mindset-mu sendiri. Belajar di rumah atau homeschool bisa efektif kalo kamu ngingdari diri dari gangguan yang bisa memecah konsentrasimu. “Tidur lebih awal, bangun lebih awal membuat orang sehat, kaya, dan bijaksana” kata Benjamin Franklin. Kalo belajarmu lebih baik dalam keadaan sunyi, kamu bangun di penghujung malam saat orang lain masih nyenyak tidur. Dan jangan lupa buka jendelamu saat matahari terbit agar kamu bisa menghirup udara segar pagi-pagi untuk hilangkan rasa sumpek selama dikarantina.

Berapa lama kamu main online game sehari? Sejam? Dua jam? Atau dari pagi sampai malam? Jika begitu, sepertinya internetmu ga bermasalah kalo dipake buat main game, kok jadi banyak kendala kalo dipake buat belajar? Lantas, cara penggunaan seperti itulah yang harus diperbaiki. Tambahan lagi, sudahilah hobi membeli game PS4 keluaran terbaru. Bukankah uangnya lebih baik untuk beli paket internet yang bagus supaya belajarmu nyaman? Sebagai pelajar, prioritasmu adalah belajar. Biarpun harus lewat jalan yang susah, berliku-liku, kamu harus mengutamakan belajar. Sadarlah, persaingan di luar sana ketat banget! Ga ada waktu untuk eceh-eceh.

Angkatan yang menjadi lulusan tahun ini bukanlah angkatan yang kasihan dan menyedihkan. Mereka justru dipaksa bersikap dewasa dan tahan banting. Mental dan emosi mereka terasah dengan segala macam perubahan di sistem pendidikan. Mulai dari penghapusan Ujian Nasional, penyederhanaan kelulusan, dan menerima ijazah dalam bentuk PDF. Angkatan inilah yang sangat teruji ketabahannya.

Belajar sendiri memang tidak mudah. Kalo ada yang ga ngerti, bingung mau nanya siapa. Tapi, kamu bisa memaksimalkan fasilitas internet lho. Google ga pernah kesal kok kalo kamu banyak nanya. []

Oleh : Du’a

Gambar hanya merupakan ilustrasi yang bersumber dari google image search.

Related

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Kabar Terbaru

Bimtek Dana Dukungan Pembinaan dan Fasilitasi SILN Tahun 2020

Jumat, 9 Oktober 2020 - Bapak Achmad Ubaedillah, MA., Ph.D selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh sekaligus Plt. Kepala Sekolah Indonesia...

Video Karya Siswa Kihajar STEM – Instalasi Modified Vehicle Photovoltaic Roofs: Maksimalisasi Shifting Renewable Energy

Muhammad Waleed, adalah murid Sekolah Indonesia Jeddah. Mengikuti kegiatan KiHajar STEM jenjang SMP yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. KiHajar STEM...

Video Karya Siswa Kihajar STEM – Modifikasi Lampu Tidur Beraroma Terapi

Khalid Waleed Abdullah Abbas, adalah murid kelas 2 SD Sekolah Indonesia Jeddah. Mengikuti kegiatan KiHajar STEM jenjang SD yang diselenggarakan oleh Kementerian...

Kategori